Haji Zulkifli Sihombing, Petani Mitra Binaan Asian Agri Sukses Kembangkan Usaha Hingga Miliki Hotel

By MS LEMPOW 14 Mei 2026, 10:07:43 WIB PERTANIAN
Haji Zulkifli Sihombing, Petani Mitra Binaan Asian Agri Sukses Kembangkan Usaha Hingga Miliki Hotel

Keterangan Gambar : H Zulkifli Sihombing foto bersama Yopy Dedywiryanto Head of Palnting Material Asian Agri di kebun kepala sawit milik H Zulkifli Sihombing di Desa Lubuk Terap, Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. f/maas


Mediajambi.com - Haji Zulkifli Sihombing adalah satu di antara 11.000 petani mitra binaan Asian Agri di Provinsi Jambi yang sukses luar biasa. Berkat hasil jerih payah berkebun kelapa sawit dan kerja sama yang baik dengan perusahaan, kini berhasil mendirikan Hotel Topaz Merlung dan menjadi pemasok  tandan buah segar (TBS) ke Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PMKS) Tungkal Ulu milik PT Inti Indosawit Subur - Asian Agri.

Kisah sukses Haji Zulkifli bermula pada tahun 1989, saat  bergabung sebagai petani plasma transmigrasi. Awalnya  hanya mengelola lahan kemitraan generasi pertama, lalu melanjutkan ke generasi kedua. Dari hasil panen yang terus meningkat dan terjamin, memberanikan memperluas usaha dengan membeli dan membuka areal kebun baru yang tersebar di Desa Merlung dan Desa Lubuk Terap, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Menurutnya, keberhasilan yang  diraih hingga saat ini tidak terlepas dari dua faktor utama yaitu kemitraan yang saling menguntungkan dan pendampingan penuh dari Asian Agri, serta pemilihan bibit kelapa sawit berkualitas tinggi. Beberapa hari lalu, saat mengajak sejumlah awak media meninjau langsung kebunnya, menegaskan keunggulan bibit yang gunakan.

     “Bibit unggul Topaz produksinya memang terbukti jauh lebih tinggi dibanding jenis lain yang pernah saya coba sebelumnya. Saya sudah mencoba berbagai jenis bibit, namun Topaz lah yang paling teruji kualitas dan hasilnya,” ujarnya dengan yakin.

    Lebih jauh ia menjelaskan, berkebun kelapa sawit yang menguntungkan tidak bisa dilakukan hanya dengan asal tanam. Diperlukan pemahaman teknis, mulai dari pemilihan bibit, perawatan intensif, hingga cara penanaman yang benar agar tanaman tumbuh besar dan berbuah lebat. Salah satu teknik yang ia terapkan adalah pembuatan bentuk tapak kuda di sekitar pangkal batang sawit. “Setiap batang wajib dibuatkan tapak kuda. Tujuannya jelas, agar pupuk yang kita taburkan tidak terbawa air hujan atau lari ke mana-mana, sehingga nutrisi terserap maksimal oleh pohon,” paparnya.

    Kemudian yang tak kalah pentingnya yaitu, selama 8 kali panen pertama buah muda dibuang, tujuannya agar berbuah lebat. Menurut Haji Zulkifli, banyak petani gagal atau hasilnya rendah karena tergoda mengambil buah pertama, padahal buah itu belum waktunya dipanen. “Saya selalu ajarkan ke anggota kelompok tani jangan serakah di awal. Saya sendiri lakukan ini, membuang semua bunga dan buah muda yang muncul, sampai genap 8 kali siklus panen. Tidak ambil satu pun, meski sudah ada buahnya. Ini harga mahal yang harus dibayar demi hasil besar di kemudian hari,” tegasnya.

    Penerapan teknik budidaya yang tepat dan bibit unggul memberikan hasil nyata. Pada usia tanaman mencapai 6 hingga 7 tahun, produktivitas kebun Haji Zulkifli mampu mencapai 38 hingga 39 ton TBS per hektar setiap tahunnya. Dalam satu hektar kebun mampu menghasilkan sekitar 3 ton buah. Bahkan, berat satu tandan buah segar bisa mencapai angka 25 hingga 30 kilogram.

    Keberhasilan Haji Zulkifli juga menular ke lingkungan sekitarnya. Di bawah kepemimpinannya, Kelompok Tani Merlung Topaz berkembang sangat pesat. Para anggota kelompok turut merasakan dampak positif dari pola kemitraan dan penggunaan bibit unggul yang sama, sehingga kesejahteraan para petani di wilayah itu meningkat signifikan.

    Hasil panen sawit yang melimpah tidak hanya digunakan untuk membiayai pengelolaan kebun semata. Haji Zulkifli berhasil mendiversifikasi usahanya ke berbagai sektor lain. Selain perhotelan, kini memiliki armada truk pengangkut hasil panen, serta jaringan usaha minimarket. Semua itu dibangun dari keuntungan yang didapat dari perkebunan sawit.

     “Hasil sawit ini berkah luar biasa. Tidak hanya cukup untuk biaya kebun, tapi juga menjadi modal kami mengembangkan usaha lain. Pesan saya sederhana,kalau kita mau bekerja keras, disiplin mengelola kebun, dan bermitra dengan perusahaan yang benar-benar peduli pada nasib petani, insyaallah kesejahteraan pasti akan tercapai,” tambah Haji Zulkifli penuh harap.

     Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa pola kemitraan berkelanjutan yang dibangun Asian Agri mampu mengangkat taraf hidup petani, menciptakan kemandirian ekonomi, dan menjadikan sektor perkebunan kelapa sawit sebagai sumber kesejahteraan yang berjangka panjang bagi masyarakat sekitar.(mas)




    Write a Facebook Comment

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Semua Komentar

    Tinggalkan Komentar :