SIWI HPN 2026, Wartawati Lebih Luwes Mampu Menembus Narasumber

By MS LEMPOW 07 Feb 2026, 17:54:08 WIB Nasional
SIWI HPN 2026, Wartawati Lebih Luwes Mampu Menembus Narasumber

Keterangan Gambar : SIWI HPN 2026, Wartawati Lebih Luwes Mampu Menembus Narasumber


Mediajambi.com - Ketum PWI Ahmad Munir memberikan apresiasinya terhadap Wartawati yang dinilainya memiliki potensi dan keunggulan keunggulan tersendiri dalam menjalankan profesinya dibandingkan pria.  Selain lebih menarik, lebih luwes juga memiliki intelektualitas yang tinggi, sehingga mudah menebus nara sumber.

“Wartawati lebih mudah menebus nara sumber yang sukar atau sulit karena mereka lebih luwes,” ujar Ahmad Munir saat memberikan sambutan pada Silaturahmi Wartawati se Indonesia  (SIWI) pada Hari Pers Nasional di Pendopo Gubernur  Provinsi Banten, Sabtu ( 7/2/2026).

Pernyataan bahwa wartawati (jurnalis perempuan) seringkali lebih luwes dalam menembus narasumber adalah pengamatan umum dalam dunia jurnalistik yang didukung oleh beberapa faktor pendekatan interpersonal. Wartawati cenderung menggunakan pendekatan yang lebih emosional, empatik, dan membangun kepercayaan dibandingkan pendekatan yang konfrontatif.

    Kegiatan ini terselenggara atas inisiasi Ketua SIWI Hj Henny Murniati diikuti ratusan peserta dari seluruh Indonesia  dibuka oleh Wakil Gubernur Banten A Dimyati Natakusumah dengan nara sumber dari  CEO Kompas TV  Rosiana Silalahi.

    Usai pembukaan, acara dilanjutkan dialog dengan narasumber Rosiana Silalahi. Mantan Pemred SCTV itu berbagi kiat sukses menjadi wartawati.

    Rosiana mengawali karir sebagai wartawan TVRI. Bahwa tantangan menjadi wartawan atau presenter visual, itu pasti. Tapi yang terpenting adalah menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan lebih berkontribusi.

    "Dibalik sukses, wau, keren, dan sebagainya, ada tanggung jawab besar menjadi wartawati. Jalani sepenuh hati dan sebisa mungkin lampaui dari apa yang ditugaskan kepada kita dari pimpinan," tutur dia.

    Rosiana mengingatkan bahwa menjadi wartawati harus menghormati komitmen dan integritas dalam menjalani tugas jurnalistik, sebab hal tersebut merupakan modal wartawan. “Tanpa itu kita tak akan punya reputasi,” katanya.

    Kata Rosi, setiap kali melakukan wawancara, wartawati harus banyak membaca dan tidak boleh dengan kepala kosong, bukan untuk melakukan framing agar narasumber tidak capek.

    Sebab pertanyaan yang dangkal akan membuat narasumber capek dan jangan takut salah. “Wartawan boleh salah, tapi tidak boleh bohong,” tegasnya.

    Wartawati harus mampu menyajikan fakta dalam karya-karya jurnalistiknya. Faktual dan akurat untuk kepentingan publik, harus menjadi pengingat bagi yang berkuasa dan menghibur yang papa. “Karya jurnalistik itu, bukan tentang kecepatan melainkan tentang ketepatan,” tutupnya. (*)




    Write a Facebook Comment

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Semua Komentar

    Tinggalkan Komentar :